YURISTGAMEINIGAMEID101

AGAMA MASA DEPAN

AGAMA MASA DEPAN 

Bahwa salah satu karakteristik keagamaan masa depan adalah munculnya kesadaran kembali akan pola keberagamaan yang tradisionalistik. Bahwa semenjak masa modern merambah dunia, manusia justru hanya berterima kasih kepada ilmu pengetahuan (rasional) dan dirinya sendiri, tidak kepada Tuhan. Sejak itulah ilmu pengetahuan diyakini sebagai “agama baru" yang mampu menjawab berbagai kebutuhan manusia, sehingga memunculkan banyak sekali orang-orang yang ateis dan agnostik seperti Hawking, Freud, Reusseou, dan sebagainya. 

Aspek metafisika yang sakral karenanya hilang dan segala sesuatu dipandang hanya secara materi belaka. Di sinilah inti modernisme yang ditolak kaum tradisionalisme, yaitu suatu pandangan yang hanya melulu memercayai suatu materi. Padahal esensi agama memandang sesuatu pada sudut hakikat yang sebenarnya merupakan realitas sejati. Meminjam ungkapan Arnold-Arnold bahwa agama yang cocok untuk dunia modern adalah keberagamaan kaum sufi atau esoterisme Tao, karena keduanya dinilai sangat humanis, inklusif dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip antropis dan hukum alam. 

Agama masa depan adalah agama yang memperjuangkan prinsip-prinsip antropik-spiritualisme yang menempatkan manusia sebagai subjek sentral dalam jagat raya, tetapi inhern dalam kemanusiaannya itu tumbuh kesadaran spiritual yang senantiasa berorientasi kepada Allah. Kesadaran spiritual ini ditopang dengan ilmu pengetahuan sehingga bisa memberikan peta kosmologis yang benar sehingga seseorang tahu di mana dan berjalan ke mana kereta ruang dan waktu yang ditumpanginnya. 

Lebih lanjut bisa dikemukakan, bahwa agama yang muncul nanti bukan berarti berbeda sama sekali dengan agama formal yang sudah ada, namun harus dijalankan secara lebih tulus untuk diterima sebagai buah kebenaran Tuhan yang sama. Sehingga akan memunculkan suatu paham keagamaan yang eklektis dan lebih bersifat humanistik-universal. 

Sikap agama mendatang adalah sikap keberagamaan yang menekankan dan menghargai persamaan nilai-nilai luhur pada setiap agama yang disebut secara umum sebagai prosesi 'amil al-shalihat secara berkesinambungan. Jadi pola keberagamaan yang kita kembangkan sekarang pun hendaknya menuju ke arah pemahaman yang relatively-absolute. Dikatakan absolut karena setiap nama mempunyai klaim dan orientasi ketuhanan, tetapi semua itu relatif karena klaim dan keyakinan agama itu tumbuh dan terbentuk dalam sejarah. Uniknya Johan Wolfgang von Goethe justru menamakan sikap keberagamaan yang eklektif itu dengan nama "islam" yang justru merangkum seluruh spiritualisme agama-agama yang dibutuhkan oleh masyarakat modern.


-Sumber: Sufi Modern, Mewujudkan Kebahagiaan, Menghilangkan Keterasingan, KH. Muhammad Solikhin, Elex Media, 2013

ADMIN

BACA JUGA