YURISTGAMEINIGAMEID101

KEGAGALAN PERADABAN MODERN DAN FAJAR BARU SUFISME

KEGAGALAN PERADABAN MODERN DAN FAJAR BARU SUFISME

Setiap individu membutuhkan struktur, sebab tanpa struktur itu berarti merupakan realitas yang tanpa makna dan berakibat pada keruntuhan. Karena ketiadaan struktur dan kehilangan makna itulah, maka manusia modern cenderung mencari apa saja untuk dijadikan sebagai way of life-nya. Indikasi ketidakpastian fundamental dalam bidang moral dan etik, terjadi disintegrasi dan disorganisasi sosial yang menimbulkan dehumanisasi yang berujung pada sikap individualistis, perlombaan materi, dan terpuruk pada kungkungan material dengan kenikmatan sesaat. 

Selain itu, karena gejolak individualitas tersebut ditunjang dengan kepuasan sesaat karena hasil-hasil pembangunan teknis, tanpa dukungan keseimbangan aspek spiritual, terjadilah proses alienasi pada pribadi anggota masyarakat. Ini terjadi, sebab kadang dalam menikmati hasil modernitas itu, menjadikan manusia lupa akan jati diri yang sebenarnya, secara tidak sadar ia justru diperbudak oleh modernitas yang semakin melingkupi dan memenjarakan jiwanya. Dari sinilah kompleksitas gejala negatif bagi kemanusiaan dimulai. 

Secara kolektif manusia mengalami gejala keterasingan jiwa, atau paling tidak keterbelahan jiwa (split personality). Keterbelahan jiwa ini telah mengerosikan sisi terdalam dari kemanusiaan, yakni batin, perasaan atau spiritualitas baik imanen maupun transenden, teknikalisasi industri telah memunculkan proses dehumanisasi secara akut, kolektif, dan tiba-tiba. 

Inti dari devinisi alienasi ini dijelaskan oleh Eric Fromm, bahwa alienasi pada masyarakat industri hampir total, yang meliputi manusia dengan pekerjaannya, benda-benda yang dikonsumsi, negara (pemerintah sebagai pelaksana pembangunan dan "pengatur" pembangunan -MS), pada sesamanya, dan pada diri sendiri. Dia menciptakan tonggak-tonggak sosial yang membentuk bangunan teknis, namun setelah bangunan itu tegak justru bangunan itu menguasai diri dan jiwanya, dan manusia pun mempertuhankan apa yang dia ciptakan itu, menghilangkan Tuhan (yang hakiki) dengan mengambil tuhan-tuhan lain (yang nisbi), yang dalam istilah Fromm dikatakan "The Idol Represents his own life-force in on alienated form" (Berhala (produk yang dipuja, hasil dari industrialisasi) yang telah merepresentasikan daya hidupnya, dalam suatu bentuk yang mengalami alienasi). 

Masa peralihan dari era agrarian ke era industrial terjadi bersamaan dengan proses masuknya gelombang era informasi dunia, maka terjadilah benturan antara dua kepentingan. Di satu pihak kritik-kritik terhadap gejala dan kecenderungan industrialisasi dilancarkan, baik dengan wacana agama maupun wacana ilmu-ilmu sosial yang lain, namun pada lain pihak perkembangan teknologi yang paling canggih pun tetap diperlukan dan digerakkan untuk membangun bukan saja sarana modern, namun termasuk pula sarana tradisional. 

Pada kondisi tersebut, praktis mentalitas agrarian tidak mendapatkan tempat yang layak, padahal mentalitas industrial belum terbentuk pada sebagian besar masyarakat. Untuk menopang pembentukan nilai-nilai baru yang akan menyangga paradigma kehidupan bangsa kembali pada norma dan tatanan nilai ideal, maka mutlak diperlukan bentuk wacana pembangunan sosial, yang menekankan pembangunan bukan saja semata sebagai persoalan pertumbuhan mekanik, namun yang dimaksud adalah proses perubahan yang dapat menjamin adanya konsolidasi sistem dan membuka peluang-peluang baru bagi tatanan pergaulan yang lebih luas. 

Otomatis ketika Wacana Pembangunan Sosial mencoba untuk dirintis kembali sebagai sarana penyeimbang (balancing) pembangunan ekonomi, maka persoalan yang dicakup dalam spektrum tersebut adalah justru wilayah-wilayah yang berada di luar garis ekonomi itu sendiri, namun meliputi masalah p0kok yang muncul sebagai implikasi dari pembangunan ekonomi, yang kini semakin menggejolak yakni transformasi pada pranata-pranata sosial, pada teknologi, nilai-nilai dan perilaku yang menitikberatkan pada program perbaikan (improvement) pada sisi mentalitas para pelaku dan pelaksana pembangunan itu sendiri, yang akhirnya mau tidak mau mengharuskan kembali pada konsepsionalisme idealis agama sebagai dasar landasan kebenaran norma dan nilai objektif dan absolut. Kondisi kemasyarakatan kita masih diperparah dengan ambruknya moral kebangsaan secara general. Terjadi degradasi keimanan di segala sektor. 

Dalam pola pemikiran terjadi sikap double standart dalam penerapan nilai-nilai objektivitas terhadap agama, budaya, dan peradaban. Sementara mental umat masih terjerat pada gejala inferiority complex, baik teoretis maupun praktis. Akibat lebih jauh dari krisis modernitas di atas, kontrol sosial masyarakat semakin longgar, bahkan mulai terlepaskan dari relnya. Ini ditandai dengan makin kendornya serta menghilangnya simbol-simbol religiusitas. Yang paling memprihatinkan, kitab suci telah semakin kehilangan elan vitalnya, walaupun pada sisi lain terdapat gejala radikalisasi keagamaan lahiriah, substansi ajaran dan daya spiyang mampu menggugah etos ilahiah untuk mewujudkan kebahagiaan makin pudar. Makin langka dan makin mahal ritual orang yang benar-benar menyentuh Al-Qur'an dengan penuh kecintaan dan kasih sayang, sentuhan zahir dan batin, ilmiah dan amaliah sekaligus. Jika kita urai secara lebih rinci kita akan menemukan lubangsulit sekali untuk sekadar ditambal atau dijalubang lain yang hit, tetapi sudah saatnya diganti secara total. 

Otomatis di sinilah peran dan tantangan agama, dan lebih khusus adalah umat Islam sebagai umat mayoritas yang memiliki tanggung jawab paling besar terhadap segala proses yang sedang berlangsung, sampai sejauh mana peran agama itu bermain dalam pembangunan untuk berpartisipasi melakukan transformasi sosial budaya yang menyangkut perubahan-perubahan sikap dan tingkah laku. Sehingga agama di alam Indonesia bukan hanya sekadar sebagai contradictio in terminis (rumus yang bertentangan dengan apa yang akan dirumuskan). Ini era new age, kata para saintis-spiritual, suatu era "“milik" para dekonstruktor. Para dekonstruktor pola keberagamaan diperlukan sebab di samping hal-hal di atas, kecenderungan akhir-akhir ini menunjukkan, hegemoni peradaban yang dibangun atas landasan modernisme Barat mulai runtuh. 

Konsepsi sains-eksak yang berdiri kokoh pada fondasi Cartesian, Newtonian atau Baconian mulai diragukan oleh banyak saintis mutakhir. Untuk itu kelompok yang menamakan dirinya New Age melirik suatu jenis “sains baru" yang menjanjikan kesejahteraan umat manusia di masa mendatang, yakni sains yang dibungkus dengan perenialisme keagamaan (religiusitas dalam bentuk nilai-nilai substantif rohaniah yang abadi). Sains sekarang diyakini dapat menjadi jalan memahami realitas kosmos. 

Di samping misalnya mistik. "Mystics have known about it for thousands of years. Science is now discovering it," kata Michael Talbot. Sains tidak lagi mendominasi, tapi melengkapi jalan agama dalam membicarakan tema-tema religiusitas. Kesadaran (yang menjadi dasar religiusitas manusia) dan alam semesta berhubungan adalah "The cosmic connection". Paham inilah yang memunculkan "religiusitas baru". Para saintis telah meyakini bahwa kosmologi memang bisa menjadi dasar untuk kesadaran "agama baru". Tapi perlu diingat, bukan agama dalam arti konvensional. 

Barangkali sejenis agama sekuler dalam baju deisme baru. Dari penggambaran di atas, maka sebuah persoalan yang cukup mendasar telah menghadang kita semua, bagaimana formulasi esensial dari dakwah islamiah menghadapi problematika tersebut di atas. Sebab, walau bagaimana pun konsepsi-konsepsi-terutama secara teoretis-dakwah yang ada sampai saat ini belum secara keseluruhan mencapai sasaran yang tepat bagi masyarakat masa depan, yakni masyarakat yang penuh keterbukaan, sehingga tampaknya diperlukan formulasi baru dalam gerakan dakwah, melengkapi yang selama ini sudah ada.

-Sumber: Sufi Modern, Mewujudkan Kebahagiaan, Menghilangkan Keterasingan, KH. Muhammad Solikhin, Elex Media, 2013

ADMIN

BACA JUGA