YURISTGAMEINIGAMEID101

MENJADI BUDAK ALLAH

MENJADI BUDAK ALLAH

Hukum adalah penjaga yang berdiri di depan pintu, sementara ilmu adalah yang di dalam rumah. Hukum bersifat umum, sementara ilmu bersifat khusus. Seorang yang arif berdiri di depan pintu al-Hagg Azza wa Jalla. Dia serahkan padanya ilmu makrifat dan pengetahuan akan perkaraperkara yang tidak diketahui oleh siapa pun selain-Nya. Jika diperintahkan memberi, ia memberi. Diperintahkan mencegah, ia mencegah. Diperintahkan makan, ia makan. Diperintahkan lapar, ia pun lapar. la diperintahkan untuk menerima seseorang dan menolak yang lain, diperintahkan untuk mengambil dari seseorang dan mengembalikan pada yang lain. 

Orang yang menang adalah yang menolongnya, dan orang yang kalah adalah yang menelantarkannya. Kaum (saleh) datang kepada kalian demi kepentingan kalian, bukan demi kebutuhan mereka, karena mereka tidak membutuhkan apa-apa lagi dari makhluk seperti kalian. Mereka menggulung tali-tali manusia, menguatkan bangunan mereka, serta menyayangi mereka. Mereka adalah intelektual besar al-Ha Azza wa Jalla di dunia dan Akhirat. Lalu untuk apa mereka mengambil sesuatu dari kalian, kalau bukan demi kepentingan kalian. Mereka hanya disibukkan dengan aktivitas rutin menasihati manusia, sebab apa yang ada dari Allah akan kekal dan kokoh, sementara yang dari selain-Nya tidak. 

Layanilah ilmu dan ulama yang mengamalkan ilmu, serta bersabarlah dalam menjalaninya. Jika engkau terlebih dahulu bersabar melayani ilmu, maka ilmu akan melayanimu. Karena itu, bersabarlah melayaninya sebagaimana kesabarannya melayanimu. Jika engkau bersabar melayani ilmu, maka engkau akan dianugerahi kepahaman hati dan cahaya batin. Wahai manusia! Serahkanlah segala urusan pada al-Haqg Azza wa Jalla, sebab Dia lebih tahu diri kalian daripada kalian sendiri. Nantikanlah pembebasan-Nya, sebab dari jam ke jam adalah pembebasan (faraj). Layanilah al-Haqq Azza wa Jalla dan memohonlah agar Dia membukakan pintu-Nya untukmu dan menutup pintu-pintu makhluk. Sesungguhnya Dia akan memperlihatkan kepadamu keajaiban-keajaiban yang tidak pernah kauduga dan pikirkan. 

Celaka kau! Jika memang Allah berkehendak memberi 90 manfaat dengan tangan-tangan manusia, tentu Dia akan memberimu. Jika Dia berkehendak mencelakakanmu di tangan manusia, maka terjadilah demikian. Dia adalah Yang Maha Mengendalikan, Maha Melunakkan, juga Mengeraskan hati mereka. Dia Maha Menghidupkan, juga Mematikan. Maha Memberi juga Menolak. Maha Pemberi sakit juga Maha Pemberi sehat. Maha Mengenyangkan, sekaligus Maha Melaparkan. Dia Maha Membungkus dan Maha Menelanjangi. Maha Bersikap baik, juga Maha Bersikap kasar. Mahaawal din Mahaakhir. Mahalahir dan Mahabatin. 

Semua itu hanya ada pada-Nya, dan tidak dimiliki selain-Nya. Yakinilah hal ini dengan segenap hatimu dan baik-baiklah bergaul dengan manusia dalam lahiriahmu. Ini adalah kesibukan kaum saleh lagi muttaqin yang bertakwa pada Allah Azza wa Jalla dalam segala kondisi mereka. Mereka berkelakar dengan makhluk, berdialog dengan mereka menurut pola pikir, hati dan kebaikan budi mereka, juga dengan akhlak Alkitab dan Sunnah, sekaligus memerintahkan mereka (mengamalkan) isi kandungan keduanya. Jika khalayak manusia menerima seruannya, mereka berterima kasih atas hal tersebut. Dan, jika mereka melanggar keduanya, maka tidak ada lagi persahabatan dan kasih sayang antara mereka dengan manusia pelanggar tersebut. 

Mereka selalu bersikap tegas dengan manusia dalam hal perintah dan larangan Allah 'Azza wa Jalla. Jadikanlah hatimu sebagai masjid dan jangan sampai engkau menyembah seorang pun di samping Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah" (Q.S. 72:18). 

Ketika derajat seorang hamba menanjak naik dari Islam ke iman, dari iman ke igan (keyakinan), dari iqan (keyakinan) ke makrifat, dari makrifat ke ilmu, dari ilmu ke mahabbah, dari mahabbah ke mahbubiyyah, dari meminta-Nya ke mathlubiyyah (yang diminta)-Nya, maka ketika itulah, jika ia lalai, ia tidak akan ditinggalkan; jika lupa, ia diingatkan; jika tidur, ia akan dibangunkan; jika terlena, ia akan disadarkan; jika berpaling, ia akan dihadapkan kembali; dan jika diam, ia akan dibuat bicara, sehingga ia senantiasa tersadar dan suci, sebab bejana hatinya telah suci. la bisa menerawang batinnya lewat lahirnya. la mewarisi kesadaran ini dari Nabinya Saw. Matanya memang terpejam tidur, namun hatinya tidak pernah tidur. la melihat apa yang di belakangnya persis sebagaimana ia melihat dari hadapannya.


-Sumber: Pencerahan Sufi (Fathur Rabbani) Penulis: Syekh Abdul Qadir Jaelani Penerbit: Forum, Yogyakarta, 2015

ADMIN

BACA JUGA