YURISTGAMEINIGAMEID101

KATA-KATA: SEBUAH EPISTEMOLOGI QURANI

Kata-Kata: Sebuah Epistemologi Qurani
oleh Matroni Muserang

Dalam al-qur’an surat al-Baqarah ayat 104 Tuhan menyebutkan tiga ‘kata’ yang menarik menurut saya, pertama kata Raa’ina atau Unzhurna yang berarti sudilah kiranya kamu memperhatikan kami dan kedu Ru’unnah yang berarti kebodohan yang sangat, itulah sebabnya Tuhan menyuruh para sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa’ina, ketiga wasmau yang berarti dengarlah.
Tiga kata ini sebenarnya ketika kita tarik ke ranah hari ini, merupakan sebuah teguran kepada para pemimpin bangsa Indonesia yang tidak lagi memperhatikan rakyat, yang akhirnya al-qur’an menyebutkan dengan kebodohan, artinya ketika seorang pemimpin tidak memperhatikan rakyatnya dialah pemimpin yang bodoh, maka untuk tidak menjadi pemimpin yang tidak bodoh, maka ‘dengarlah’ suara rakyat, jeritan rakyat, dengarlah suara hati kita sendiri.   

Setiap manusia pasti berkata, entah dengan cara apa pun, oleh sebab itu setiap kata bahkan setiap huruf dalam al-qur’an selalu dijaga oleh malaikat, artinya apa? Setiap apa yang kita “katakan” sepenuh-penuhnya memiliki tanggungjawab sendiri. Hari ini “kata” itu sudah hilang maknanya. Kata sudah kehilangan rohnya. Kata sudah dibunuh oleh manusia. Di bunuh oleh manusia yang tidak lagi menyadari bahwa setiap “kata”memiliki makna. Makna untuk diri sendiri maupun kepada orang lain.

“Kematian kata” diakibatkan oleh manusia yang tidak menyadari, tidak tanggungjawab, tidak punya rasa empati terhadap “kata”. Makanya dibutuhkan rasa untuk menjadi pemimpin, rasa dalam ini adalah bagian dari tubuh kita yang digunakan sebagai alat untuk menjadi pemimpin.  

“Kata” hari ini hanya sebatas kata kosong, misalnya bagaimana sang pembuat “janji-janji kerakyatan” yang tidak merakyat. Ketika janji di buat oleh penguasa seharusnya dan sepantasnya memperhatikan kata Raa’ina. Raa’ina kalau di kontekstualisasikan dengan keadaan rakyat hari ini sebenarnya sebuah seruhan kepada penguasa untuk melihat keadaan rakyat, memperhatikan rakyat, bukan lantas sibuk dengan partai dan politiknya. Maka itu, sebelum berniat menjadi penguasa dan mendaftar sebagai anggota DPR, cobalah kita refleksikan ayat di atas dan “dengarlah”.

Kalau rakyat tidak mencatat apa yang di “kata”kan oleh pembuat janji (kata), Tuhan tidak akan pernah lupa karena Tuhan Maha Pemcatat. Jadi kalau pun penguasa tidak lagi bertanggungjawab terhadap kata-katanya sendiri, maka “Kata” itulah yang membalas kepada pembuat kata (pembuat janji kosong). 

Lalu sebenarnya ada apa dibalik pembuat janji (kata) yang kemudian lupa terhadap janji-janji? Pertama mereka tidak memperhatikan apa yang mereka katakan, mereka hanya janji demi mendapat satu kursi kekuasaam, kedua tidak mendengar, padahal mereka punya telinga, lucu, lalu telingat mereka digunakan untuk apa? Mengapa saya berkata tidak mendengar, banyak rakyat miskin dibiarkan, banyak ketidakadilan dibiarkan, banyak pemerkosaan dibiarkan, banyak kekerasan dibiarkan, banyak pejuang dihilangkan juga dibiarkan, banyak TKI mati terbunuh dibiarkan. ketiga tidak menyadari, mereka tidak manyadari bahwa ‘kata’ itu milik Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Maka dari itulah,bukan saatnya kita menggunakan kata hanya untuk janji kosong, ‘kata’ sudah saatnya dihargai, karena ‘kata’ merupakan makhluk Tuhan yang diletakkan dalam diri kita, dari itulah sebagai manusia yang memiliki akal (rasio, ide) sepantasnyalah menggunakan rasio untuk mengeluarkan ‘kata’ agar tidak terjebak pada “janji-janji kerakyatan yang tidak merakyat” akhirnya janji hanya sebuah kata kering yang tak berbuah. 

Kata sebagai Perantara
‘Kata’ membuat kita kenal dengan siapa pun, termasuk kenal diri sendiri, dengan berdialog dengan diri sendiri, kata-lah yang memberikan dialog tersebut, siapa sebenarnya diri ini? Untuk apa diri ini? Bagaimana diri ini ada?. Mengapa diri ini ada? Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya berangkat dari ‘ide kata’ yang hendak kenal dengan dirinya sendiri.  

‘Kata’-lah yang membuat manusia dikatakan manusia, itulah mengapa etika dibutuhkan, sopansantun diperlukan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan ‘kata’ untuk kita. Artinya ‘kata’ dicipta Tuhan untuk digunakan sebaik-baiknya untuk dipertanggungjawabkan, bukan digunakan untuk memperalat kekuasaan, pembuat janji kerakyatan yang tak merakyat, akan tetapi Kata adalah cinta. Sebab ketika seseorang sudah sadar dan menyadari bahwa kata-kata ini bukanlah kata-kata melainkan cinta, pertemuan ini, bukanlah pertemuan melainkan cinta, kekuasaan ini bukanlah kekuasaan melainkan cinta.  

Orang yang menyadari akan merasakan bahwa dalam diri kata sebenarnya ada cinta. Dari itulah mengapa kata (fitnah) kadang lebih tajam dari pembunuhan. Karena ketidakmampuan kita dalam memaknai dan membaca Kata. Maka konsep “baca” sebenarnya kita dituntut lebih detil dan radik dalam membaca Kata, agar apa yang kita ingin dari Kata menguak maknanya. Maka Kata akan membantu kita dalam memberikan penyadaran, memberikan empati atau rasa, memberikan kebahagiaan, dan memberikan cinta untuk alam semesta. Itulah sebenarnya Kata bagian dari Islam maka Kata seharusnya menjadi rahmah untuk alam semesta. 

Inilah tanggungjawab kita sebagai manusia pemikir, pelihat, dan pendengar, untuk terus membaca, belajar, dan berkata untuk semesta, semoga kita mampu memperlakukan Kata dengan baik. Amin.

ADMIN

BACA JUGA