YURISTGAMEINIGAMEID101

KETIKA AIR MATA MENGADILI DIRIKU

Ketika Air Mata Mengadili Diriku
oleh Matroni Muserang



Di dunia ini banyak airmata mengalir. Ada airmata kebahagiaan, airmata kesedihan, airmata kebahagiaan sekaligus kesedihan, ada airmata penyesalan.

Ada ragam manusia yang gawat, sok, ada manusia yang lemah lembut, sopan, dan alim. Namun manusia yang gawat/sok seringkali membuat dirinya semakin jauh, jauh dan jauh, mengapa? Manusia yang sok, ia akan merasa dirinya paling gagah, paling ganteng, paling cantik, paling benar sendiri. Dan sifat-sifat inilah yang kemudian membuat jiwa dan pikiran manusia semakin jauh dari roh ilahi.
Ketika jiwa dan pikiran yang jauh dari jiwa ilahi, maka kegelapan dan ketidakmenentuan akan menjadi baju keseharian manusia. Dan airmata akan terus menemani dan mengalir ketika manusia mengalami kesedihan dan kesusahan yang sifatnya dahir, permukaan saja. Juga kebahagiaan mengalirkan airmata. Pertanyaan yang kemudian ada adalah mengapa harus dengan kesedihan, kebahagiaan dan penyesalan airmata mengalirkan airmata?
 Artinya airmata tidak lagi bermakna cenging, atau sintimentil dan manja, justeru airmata akan menjadi pendidik yang sejati dalam memahami kehidupan yang sebenarnya. Airmata mampu membuat hati dan pikiran hidup dan terbuka. Mengapa tidak? Ketika diri ini sadar dan menyadari “aku ada” karena kasih sayang (ridha) orang tua, karena ridha Tuhan, “diri” merasa bahwa diri ini tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa ada orang tua, diri ini bodoh, jika tidak ada orang tua. maka ketika kesadaran hal ini merasuk ke relung-relung terdalam jiwa dan pikiran seseorang, dengan sendirinya airmata akan tumpah, karena diri ini penuh dosa dan salah kepada orang tua.
Contoh, ketika kita gagal mencapai cita-cita, gagal meraih kesuksesan, dengan sendirinya kita akan menangis, butuh pertolongan Allah, butuh pertolongan orang tua, padahal ketika kita berada di ruang kesuksesan (sukses materi) kita tidak sadar bahwa kesuksesan tersebut berkat doa orang tua dan ridha Allah. Banyak di antara kita yang merasa gagah, sok, karena sudah merasa banyak membantu orang tua, banyak membantu orang lain, namun kalau itu semua hanya karena ingin di nilai orang lain, ingin di puji orang lain, maka apa pun yang diberikan kita pada orang lain, tidak akan memiliki makna apa pun di hadapan Allah.
Airmata akan menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa airmata keluar ketika apa dan untuk apa? Kalau airmata tumpah karena melihat perjuangan dan kerja keras orang tua, dan tingkah laku hati dan pikiran yang baik, maka airmata itu akan memberikan kesaksian sesuai apa yang terjadi, juga sebaliknya kalau kita airmata tumpah hanya persoalan-persoalan dunia, maka airmata pun akan berkata sesuai dengan apa yang terjadi. 
Artinya airmata memiliki nilai, bisa menjadi nilai pendidikan ketika airmata kita tumpahkan karena kerenyuhan jiwa yang disebabkan karena memikirkan umat, airmata memiliki nilai spiritual ketika kita dihadapan Allah tidak memiliki daya dan upaya apa pun, sebab kita adalah makhluk yang hina, makhluk yang rugi, makhluk yang dicipta dari tanah dan kembali ke tanah. 
Lantas buat apa kita merasa gagah, merasa pintar sendiri, merasa benar sendiri, sehingga diminta tolong orang tua marah, tidak mau, padahal jelas dalam al-Qur’an berkata ‘uf’ saja tidak boleh, apalagi sampai kita marah. Karena kita sudah jadi guru, jadi dosen, jadi mahasiswa, jadi santri sehingga ketika orang tua minta tolong, kita tidak mau, gengsi. Padahal kalau kita kritis menjadi guru, dosen, santri dan mahasiswa, justeru kita semakin sadar bahwa orang tua merupakan semesta yang tak terbatas. Dengan orang tua, kita bisa menjadi guru, dengan orang tua kita bisa menjadi dosen, dengan orang tua kita bisa menjadi santri, dengan orang tua kita bisa menjadi mahasiswa. Sebab sudah waktunya kita menumpahkan airmata untuk menyuburkan dan menyejukkan kegersangan spiritual.  
Dengan bagitu, wajar jika airmata kita tumpahkan untuk orang tua dan Allah, bukan yang lain. Begitulah ketika airmata mengadili diri kita. Airmata akan menyuburkan hati dan pikiran. Airmata menjadi siraman kesadaran bagi kehidupan hati dan pikiran. Airmata akan menjadi bunga-bunga kebermaknaan yang semerbaknya tercium seantero dunia. Semoga airmata kita menjadi airmata yang selalu menyadarkan diri kita dan airmata yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Amien.


Banjar Timur, 2 Februari 2015  
  


ADMIN

BACA JUGA