YURISTGAMEINIGAMEID101

MENGHIDUPKAN “SPIRITUALITAS-QURANIK” DALAM KESEHARIAN

MENGHIDUPKAN “SPIRITUALITAS-QURANIK” DALAM KESEHARIAN
oleh Matroni Muserang


Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan dan perkembangan, baik dari segi paradigma (carapandang), karakter, budaya maupun keilmuannya dengan produk-produk yang dilahirkannya. Kalau perkembangan ini dibiarkan tanpa ada upaya pembacaan yang serius, maka perkembangan itu justeru akan membuat masyarakat akan mudah dipermainkan waktu, mudah terjebak dengan hal-hal yang sifatnya materi saja dan perkembangan ke arah yang kering dari religiusitas dalam hal ini spiritualitas. Dengan perkembangan teknologi dan masyarakat yang semakin hari semakin kompleks, maka keilmuan kita juga harus berkembang.  

Banyak produk-produk yang dilahirkan teknologi karena kecerdasan manusia, namun manusia kadang lupa siapa sebenarnya pencipta kecerdasan. Kalau kecerdasan berada di otak, lalu siapa yang menciptakan otak? Kalau kecerdasan berada di hati, lalu siapa yang menciptakan hati? Pertanyaan inilah yang kini mulai hilang bahkan kering dari diri manusia. Kini manusia bukan lagi percaya terhadap pencipta (pencipta yang sebenarnya), akan tetapi percaya terhadap apa yang dilahirkan oleh dirinya sendiri, sementara dirinya lupa siapa pencipta dirinya? 

Kalau paradigma ini yang menjadi karakter manusia hari ini dan selanjutnya, maka wajar jika al-Qur’an pelan-pelan akan dihilangkan oleh kita. Sementara spiritualitas merupakan salah satu dari sekian banyak nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an yang kini mulai dilupakan oleh banyak orang. Sehingga lahir manusia-manusia yang sebenarnya menyempitkan dirinya sendiri. Padahal kalau orang mau berpikir dan membaca nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an, sebenarnya sangat luas, dan ini sebenarnya cara Tuhan untuk mendekat kepada manusia, hanya saja manusia tidak menyadari bahwa apa yang kita sebut baik belum tentu baik bagi Tuhan.  

Dalam tulisan ini, akan disampaikan bahwa dalam diri manusia memiliki dua hal; pertama kita menjadi manusia yang selalu bersyukur (alhamdulillah), kedua kita menjadi manusia celaka (innalillah). Kita ingat terhadap orang tua, isteri dan guru, adalah sosok manusia yang berada dalam ruang hamdalah, sementara sosok manusia yang berada di ruang innalillah adalah manusia yang selalu dipermainkan oleh perasaannya sendiri, mudah dipengaruhi dipengaruhi budaya orang lain, maka kedua ikon dalam perjalanan manusia ini merupakan bagian hal yang terpenting untuk kita hidupkan dalam keseharian kita, agar dalam perjalanan hidup tidak mudah terjebak dengan berbagai rayuan hidup yang kadang salah kita baca. Maka konsep baca (iqra’) dalam al-Qur’an merupakan cara Tuhan agar manusia memiliki kesungguhan (ijtihad) dalam membaca realitas kehidupan yang terus berkembang dengan menggunakan ilmu. 

Kalau kita mau belajar cara Tuhan. Tuhan yang maha segalanya masih menggunakan malaikat, Rasul dan nabi dalam segala urusan, apalagi manusia sebagai hamba Tuhan. Mengapa? Artinya Tuhan mengajarkan kepada manusia agar tidak sombong, dan selalu menghargai waktu/proses, sebab waktu juga makhluk yang diciptakan Tuhan, dan Tuhan pun menghargainya, apalagi manusia yang selalu terikat waktu. 

Misalnya dalam emosi, sebenarnya kita tidak boleh emosi dalam melihat berbagai fenomena hidup, organisasi keagamaan, partai dan pemikiran orang lain. Mengapa kita seringkali tidak mampu menerima perbedaan mereka, padahal fenomena kehidupan dan perbedaan merupakan tanggungjawab bersama, karena itu merupakan garis horizontal (hubungan hati ke hati)? Bagaimana menghidupkan hati (spiritualitas/nafs/jiwa) ketika melihat berbagai persoalan-persoalan kehidupan yang ada di depan kita. Maka jangan membatasi pikiran dan hati kita, artinya kita harus memiliki ijtihad (kesungguhan) dalam membaca ayat-ayat Allah (ayat qauliyah dan kauniyah), karena membaca ayat kauniyah merupakan ibadah ghairu mahdah. Kalau kita mampu memahami dan membaca konsep iqra’-spiritualitas-qur’anik, maka tidak ada yang salah di dunia ini, tapi yang salah adalah kita. Kita salah memahami dan membaca ayat-ayat Allah yang dibentang dari barat dan timur, utara dan selatan.    

Banyak orang pintar membaca teks (al-Qur’an dan Hadist/ ayat qauliyah dan kauniyah), tapi tak banyak orang yang mampu membaca isi teks (al-Qur’an dan Hadist/ ayat qauliyah dan kauniyah). Maka untuk menghidupkan spiritualitas qur’anik dalam keseharian kita, seseorang harus memiliki ijtihad yang kuat dan kokoh serta mampu masuk menelusup ke dalam ruang-ruang metafisik seperti sesuatu atau makna yang terkandung dalam teks, seperti alam malaikat, alam jin, alam orang-orang yang meninggal. Artinya dalam dunia spiritualitas, seseorang dituntut untuk mampu melihat dua ruang sekaligus, baik yang material (dhahir) maupun yang immateri (batin/esoterik/mendalam), sebab al-Qur’an juga memiliki dua sisi (materi dan immateri).   

Dalam ranah sosial-kemasyarakatan pun harus demikian, yaitu bagaimana kita harus rukun, toleransi, saling hidup bersama, saling sayang, saling cinta, saling menghormati, tidak boleh ada kekerasan, tidak boleh emosi, tidak boleh melecehkan satu sama lain, agar persaudaraan atas nama kemanusiaan (al-insaniyah) itu bisa tercapai, bukanlah persaudaraan atas nama kemanusiaan di dunia ini sangat indah. 

Persaudaraan atas nama kemanusiaan inilah yang sulit untuk tidak mengatakan tidak ada ditemukan akhir-akhir ini. Persaudaraan atas nama kemanusiaan inilah sebenarnya spiritualitas-qur’anik yang harus kita hidupkan bersama-sama dalam menapaki keseharian yang penuh tanggungjawab.  

ADMIN

BACA JUGA