YURISTGAMEINIGAMEID101

MENGISLAMKAN ETIKA

Mengislamkan Etika
oleh Matroni Muserang
-Penyair dan akademisi


Sekarang kita sampai di satu titik yaitu zaman dimana anak-anak mudah tidak lagi mengenal etika/akhlak/sopan santun, sehingga wajar jika ada anak mudah sering marah terhadap orang tua, tidak taat kepada orang tua, tidak taat kepada guru, sehingga zaman ini kata orang tua dikatakan “zaman ketidaksadaran diri”. 

Anak-anak tidak lagi sadar bahwa orang tua adalah wakil Tuhan di bumi, pejuang sejati. Dengan ketidaksadaran diri inilah etika/akhlak/sopan santun penting dikembalikan ke tempat semula yaitu Islam itu sendiri. Agar tidak terjadi sewenang-wenangan anak terhadap orang tua, misalnya minta mobil, motor kepada orang tua, tanpa berpikir bahwa orang tua harus kita taati. 

Dalam hal ini, mengislamkan etika penting untuk kita sampaikan, sebagai terapi kemanusiaan terhadap anak-anak muda yang kini terjangkiti virus “kematian etika/akhlak/sopan santun”. Penyebab ketidaksadaran diri salah satunya adalah keringnya spiritualitas, keringnya rasa malu, keringnya pembacaan (iqra’), keringnya kesadaran, keringnya ketaatan kepada orang tua yang diakibatkan oleh masuknya budaya baru, teknologi dan globalisasi yang masuk melalui Hp tanpa adanya pembacaan yang kritis dari anak-anak muda. 

Padahal anak-anak muda banyak yang sekolah/kuliah tapi mengapa seringkali mereka tidak memiliki daya dan prinsip yang kuat dalam menyelami dan pembacaan keilmuan yang mereka pelajari, apakah ini yang dikatakan “kematian diri”. Keringnya pembacaan dan penghayatan yang mendalam akan membuat diri kita kering lalu mati, mengapa? Kurangnya berpikir dan pembacaan terhadap perjuangan kedua orang tua, sehingga seolah-olah etika/akhlak/sopan kepada kedua orang tua tidak penting. 

Akhirnya etika/akhlak/sopan santun hanya sebuah nama yang hampa makna. Padahal etika/akhlak/sopan santun diturunkan tidak hanya dalam tingkahlaku, akan tetapi bagaimana akal dan jiwa juga harus memiliki etika/akhlak/sopan santun, agar tutur sapa, tingkah lagu, gaya hidup menjadi lebih menyejukkan orang tua dan masyarakat. 
Orang tua disamping sebagai wakil Tuhan di bumi, orang tua juga guru pertama kita. Di dalam rahim anak dikenalkan dengan al-qur’an (kitab suci), shalawat, bacaan-bacaan baik bahkan ketika lahir di perintah untuk di adzanin agar indera-indera dijaga oleh malaikat-malaikat Allah yang diturunkan, sebab kita dilahirkan disangoni ayat oleh Allah yang tertulis dalam al-Qur’an. 

   Maka ayat-ayat kita sendiri itu sebenarnya roh dalam menjalankan kehidupan di dunia maupun diakhirat, tapi kalau kita tidak mau membaca seperti yang diperintah Tuhan, maka kita akan menjadi manusia-manusia yang rugi bahkan tidak mengenal apa itu etika/akhlak/sopan santun. 

Dengan demikian, sudah saatnya kita kembali kepada nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah, sebagai instrumen diri agar tidak terjebak pada kegersangan hidup yang semakin hari semakin kering dan kering akhirnya kita mati dalam keadaan kering (tanpa membawa sango) ke akhirat, naudzubillah. Maka mengamalkan dan memasukkan nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah yang bernama etika/akhlak/sopan santun ke dalam kehidupan sehari-hari merupakan ijtihad kita bersama sebagai hamba yang di cipta oleh Sang Maha Pencipta. 

ADMIN

BACA JUGA