YURISTGAMEINIGAMEID101

SITUS SEJARAH: KEAGUNGAN SEBUAH NILAI

Situs Sejarah: Keagungan Sebuah Nilai
oleh Matroni Muserang

"...dan nabi mereka mengatakan kepada mereka, “sesungguhnya tanda ia menjadi raja ialah kembalinya Tabut* kepadamu, di dalamnya terdapat keterangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman” (al-Baqarah: ayat 248)


Ketika membaca ayat ini kita semakin sadar bahwa situs bersejarah benar-benar memiliki nilai yang agung bagi anak cucu kita. Tabut sebagai benda peninggalan Musa dan Harun di bawa malaikat ketika mau berperang, kalau kita mau berpikir sejenak bagaimana mungkin hanya sebuah peti mati yang didalamnya berisi peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun mampu memberikan ketenangan dan kemenangan? Ini mendankan bahwa situs bersejarah benar-benar memiliki nilai yang cukup mulia di hadapan Tuhan, salah satu buktinya bahwa situs orang mulia (shaleh) Tuhan memeliharanya dengan mengutus malaikat untuk membawa.

Bahkan situs bersejarah di Eropa, Jakarta, Jogjakarta, Jawa Tengah dengan megah berdiri sekaligus memberikan nuansa religiusitas, arsitek dan keilmuan yang luar biasa, maka wajar jika ada seseorang yang tidak suka dan memelihara situs-situs orang shaleh atau pangeran dikatakan orang yang tidak memiliki iman. Sungguh agung sebuah situs atau peninggalan orang-orang alim. 

Tabut hanya sebuah peti dan didalamnya tersimpan barang-barang keluarga, tapi mengapa Allah masih memelihara sampai-sampai memerintah malaikat untuk membawa dihadapan para pejuang dan ternyata ketika peti itu diletakkan didepan para pejuang, mereka semua pasti memang dalam peperangan, ini manandakan bahwa ada hubungan horizontal sekaligus vertikal, artinya memehara dan menjaga situs sejarah merupakan sunnatullah yang memang diperintah dalam al-Qur’an. 

Sebenarnya menjaga dan memelihara situs sejarah tidak harus situs yang megah, akan tetapi situs keluarga seperti rumah, tempat shalat, dan lain sebagainya diperintah untuk dijaga dan dirawat, untuk mengingat nenek moyang kita sebagai orang tua pertama yang mendidik kita dan bahkan perkembangan agama dunia pun ditandai dengan adanya situs sejarah seperti masjid agung, bangunan menara evel, bangunan tua, monas, borobodur, prambanan, kraton, kitab dan ajarannya semua tersimpan rapi.

Ikatan roh dan energi yang tersimpan dibalik situs tersebut sebenarnya memiliki energi pengetahuan terhadap orang lain, apalagi keluarga yang memiliki, seperti keluarga Musa dan keluarga Harun. Jadi saya teringat pendapat Komaraddin Hidaya dalam “Ketika Agama Menyejarah” (al-jami’ah: januari-june 2002) bahwa:

hampir semua peradaban besar yang pernah tumbuh di muka bumi pada mulanya dimotivasi oleh keyakinan agama. Berbagai monumen sejarah atau peradaban semacam bangunan pyramid di Mesir, candi Borobodur di Jawa Tengah, dan sekian banyak bangunan kuno di Yunani semua itu berdiri karena dorongan keyakinan agama. Belum lagi ratusan bangunan gereja yang begitu megah di Eropah dan masjid yang amat monumental di Makkah dab Madinah adalah bukti nyata kekuatan dan kontribusi agama dalam membangun peradaban dan bahwa juga eksistensi arsitektural yang menghiasi lembarah sejarah manusia. Sedemikian kuatnya peranan dan pengaruh agama, sehingga banyak sekali pergolakan dan perubahan besar dalam sejarah dunia modern tidak bisa dilepaskan dari semangat, isu dan simbol-simbol keagamaan. 

Agama dan situs sejarah atau peradaban selalu bergandeng tangan dalam memperjuangkan semangat keilmuan, untuk itulah Wali Songo dan para penyebar keagamaan membangun tempat beribadah, ini bukti nyata bahwa kalau ada seorang ulama, Kiai hari ini yang belum bisa menjaga situs para sesepuh maka perlu dipertanyakan ke-kiai-annya atau ke-ulama-annya. 

Namun, harapan kita ke depan, mari kita bersama-sama saling berdialektika, berdialog untuk menemukan titik kesadaran bahwa diri ini masih membutuhkan banyak pengetahuan yang harus dipelajari selama hidup, sebab mencari ilmu di tuntut sejak masih digendong  sampai berkalang tanah. Jadi kalau ada manusia hari yang tidak belajar dan membaca angkatlah takbir empat kali kata Imam Syafi’ie. 

Catatan:
* Tabut adalah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka

ADMIN

BACA JUGA