YURISTGAMEINIGAMEID101

TERPESONA DI SIDRATUL MUNTAHA

Terpesona di Sidratul Muntaha


Jika kita berhasil mempertahankan suasana khusyuk menyelimuti shalat kita, maka suatu ketika di puncak kekhusyukan itu, kita akan merasakan suatu kondisi yang sangat misterius, yang saya menyebutnya sebagai 'terpesona'. Suasana hati, yang kita capai pada waktu itu sangat sulit untuk digambarkan dengan kalimat. Akan tetapi, kira- kira merupakan perpaduan antara rasa tentram, rasa damai, ikhlas, sabar, cinta, indah, puas, dan kagum, tapi sekaligus ada rasa misterius dan ingin tahu lebih jauh. Saya menyebutnya sebagai rasa 'terpesona'.



Terpesona adalah suatu kondisi kejiwaan dimana kita sangat kagum kepada sesuatu akan tetapi tidak bisa menjelaskan 'kenapa' dan 'bagaimana'. Tiba-tiba saja perasaan itu muncul 'menyergap' kita ketika berhadapan dengan sesuatu yang 'kehebatannya' di luar perkiraan kita selama ini. Tentu saja rasa kagum tidak bisa muncul begitu saja. Kekaguman akan muncul disebabkan oleh adanya interaksi antara kita dengan sesuatu yang sangat hebat.

Dalam hal Shalat, rasa terpesona itu baru bisa muncul ketika kita melakukan interaksi dengan Allah. Ya, bagaimana mungkin bisa terpesona jika kita idak melakukan interaksi dengan Allah dalam shalat Kita. Misalnya orang-orang yang shalatnya tidak paham tentang apa yang dia lakukan. Karena, interaksi baru bisa terjadi jika kita paham apa yang kita ucapkan Itulah yang dianjurkan Allah kepada kita. Hal ini aka kita perdalam di bagian-bagian berikutnya dalam buku ini Rasa itulah yang muncul pada Nabi Muhammad ketika beliau berada di puncak kekhusyukannya di langit yang ke tujuh.

Di Sidratul Muntaha. Beliau betul-bett tidak menyangka, bahwa tanda-tanda Kebesaran da Keagungan Allah akan ditampakkan kepada beliay dalam 'bentuk' sedemikian rupa. Yang ada, pada waktu itu, hanyalah rasa terkagum-kagum atas 'kedahsyatan' alam semesta yang beliau lihat. Namun, sebenarnya terselip rasa ingin tahu lebih banyak lagi di hati beliau tentang segala sesuatu yang berada di balik Sidratul Muntaha.

Akan tetapi mata batin beliau tidak mampu menembusnya. Ya, itulah batas pengetahuan tertinggi dari makhluk manusia untuk mengetahui rahasia ilmu Allah. Akan tetapi, apa yang beliau lihat itu adalah pengetahuan tertinggi yang dimiliki manusia. Barangkali hanya Nabi Ibrahim yang diberi kesempatan semacam itu oleh Allah. Karena itu, Nabi Ibrahim digambarkan berada di langit ke tujuh ketika Rasulullah saw mengalami Mi'raj tersebut.

Di dalam sebuah firman-Nya Allah mengatakan bahwa apa yang dilihat oleh Rasulullah saw itu bukan kejadian 'bohongan' atau sekedar mimpi. Namun sebuah kejadian yang sesungguhnya.

QS. An Najm (53): "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya."

 QS. AI Israa' (17): "Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka."


-Sumber: Terpesona di Sidratul Muntaha, Agus Mustofa, Padma, 2006

ADMIN

BACA JUGA